Monday, February 1, 2010

Berawal dari Jasa Pembuatan Pelat Nomor

Selasa, 2 Pebruari 2010 | Jumlah artikel terbit hari ini: 1154

Berawal dari Jasa Pembuatan Pelat Nomor

Berawal dari Jasa Pembuatan Pelat Nomor

Keberadaan jejeran bengkel cat duco di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, itu berawal dari kegiatan sekelompok pemuda yang menawarkan jasa pembuatan pelat nomor kendaraan. Salah satu pemuda itu bernama Entang Asegar. Pada awal 1980-an, pria yang biasa disapa Abah itu, dengan bermodalkan keberanian, menawarkan jasa pengecatan pada pelanggan yang memesan pelat nomor. Padahal, menurutnya, ketika itu dia belum terampil benar mengecat mobil.

Namun, Abah yang pernah bekerja selama tujuh tahun di salah satu perusahaan cat itu berhasil meyakinkan pelanggan. AkKimya, pelanggan yang tadinya hanya memesan pelat nomor berminat pula untuk mengecatkan kendaraan mereka.Dengan keterampilan pas-pasan dan peralatan mengecat yang masih sederhana, berupa pompa angin manual, spray, dempul, amplas, cat, dan liner, Abah pun pede-pede saja melayani pelanggan. "Sekadar mendempul dan nyemprot masa saya enggak bisa," paparnya. Ternyata, hasil pekerjaan Abah tidak mengecewakan para pelanggan. Sejak itu, hasil pekerjaan Abah tersebar dari mulut ke mulut para pelanggan.

Sejak saat itu pula Abah berinisiatif membuat papan bertuliskan "menerima cat duco" sebagai media promosi usaha pengecatan bodi mobil. Dari hari ke hari, pelanggan pun semakin banyak yang berdatangan. Seiring makin banyaknya pelanggan, mantan preman di kawasan Senen, Jakarta Pusat, itu merasa kewalahan menerima order.Akhirnya, pada 1982, dia membuat bengkel duco yang diberi nama Bina Mandiri. Para pekerja Bina Mandiri berasal dari preman-preman dan tukang parkir yang berada di bilangan Kramat Raya. "Para preman dan tukang parkir yang ingin mengubah jalan hidup mereka menjadi lebih baik saya berikan pekerjaan," ujar pria asal Garut, Jawa Barat, itu. Tidak hanya preman dan tukang parkir, Abah pun mengajak anak-anak yang putus sekolah atau yang tidak mampu membayar sekolah untuk ikut bekerja di bengkelnya.

Selama ini, kata Abah, setidaknya lebih dari 300 orang telah dia bina. Mereka yang sudah memiliki keterampilan memperbaiki dan mengecat bodi kendaraan biasanya membuka bengkel cat duco sendiri. Ada pula yang mendirikan usaha di sekitar Jalan Kramat Raya atau Jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat. Bahkan, beberapa anak binaan Abah ada yang mendirikan usaha di luar Jawa.Abah menganggap para mantan anak buahnya yang mendirikan bengkel cat duco itu bukan sebagai pesaingnya. Pria kelahiran 15 Maret 1955 itu bahkan bangga dapat menularkan ilmu dan keterampl-lannya kepada banyak orang. "Soal rezeki, itu mah sudah ada yang mengatur. Sekarang ini kami hanya bisa berusaha memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan agar tidak kabur," ujarnya.

Keberadaan bengkel-bengkel kaki lima itu, disebutkan pula, merupakan usaha warisan dari para orang tua yang tinggal di Kelurahan Kwitang. Adejoe, salah satu montir di bengkel cat duco Kramat, mengatakan, "Tidak tahu siapa yang mengawali usaha ini, tetapi sebelum 1980 sudah ada yang memulai usaha bengkel cat duco ini."Menurutnya, menjamurnya usaha bengkel cat duco seperti sekarang ini lantaran pekerjaan tersebut memberikan hasil lumayan. Tak pelak, bukan hanya orang Jakarta yang berusaha mengais rezeki di jalanan Kramat Raya. Beberapa orang dari daerah yang memiliki ilmu dan keterampilan memperbaiki dan mengecat bodi mobil pun mencoba mengadu nasib di tempat itu. awm/L-2


Sumber :

http://bataviase.co.id/node/76797

Artikel Terkait

0 comments:

Selamat datang di Blog Informasi Peluang Bisnis Kami. Semoga informasi yang kami berikan bermanfaat untuk Anda. Terima Kasih
 
Informasi Peluang Bisnis Copyright © 2009 Informasi Peluang Bisnis