Saturday, January 30, 2010

Berdagang Kopi; Dari Biji ke Bubuk

Ide berdagang bubuk kopi bukan dari saya. Itu inisiatif dari kakak sepupu perempuan saya. Namanya Ninik, saya memanggilnya dengan tambahan "ning". Ini karena saya seringkali blusuk'an ke daerah pedalaman. Saat itu, saya melakukan fieldtrip ke utara Pulau Lombok. Menjelang balik ke Mataram, saya menyempatkan diri mampir dan bersilaturahmi dengan kenalan saya, seorang petani yang juga pengepul biji kopi. Di kenalan itulah saya membeli oleh-oleh satu kilo biji kopi seharga Rp15ribu. Saya membelinya karena saya tahu harga jual biji kopi di pasar Mataram mencapai Rp. 24ribu. "Murah sekali", pikir saya waktu itu.

Saya menceritakan ke ning Ninik betapa murahnya harga biji kopi di teman saya. Rupanya, cerita itu ditanggapinya. Ide berdagang biji kopi pun bergulir. Begitulah, selanjutnya sempat beberapa kali saya membawakan biji kopi pesanannya, paling sedikit 10 kilo. Ternyata, beliau mengemasnya sedemikian rupa dalam ukuran satu kilo dan menawarkan 'dagangan barunya' itu ke tetangga-tetangga. Perlu diketahui, masyarakat Lombok pada umumnya sangat suka dengan minuman kopi. Tentu saja, ning Ninik menjual biji kopi kiloan itu dengan harga "agak miring" dari harga di pasar. Setahu saya, ning menjualnya lebih murah antara Rp. 1000 sampai Rp. 3000.

Dagang biji kopi itu dimulai ning Ninik sekitar awal bulan Februari 2009. Dan, tiga bulan kemudian, beliau mengganti fokus dagangannya ke kopi bubuk. Tentu saja prosesnya bertambah; disangarai dan setelah itu digiling. Saya sempat tanya alasan dia mengganti jualannya dengan kopi bubuk. Dia mengatakan, keuntungan menjual kopi bubuk jauh lebih besar dibanding berdagang biji kopi.

Saya tidak tahu persis kisaran keuntungannya. Cuma, saya tahu dia menjual kopi bubuk dagangannya antara Rp. 8000 sampai Rp. 9000 per 250 gram. Atau, Rp. 32ribu sampai 36ribu per kilo. Itu kopi murni, tanpa campuran. Dan, iya, memang selisih harganya masih jauh dengan harga di pasaran yang mencapai kisaran tertinggi Rp45ribu per kilo.

Cuma, wong namanya saja kerja rumahan, dia juga tidak pernah mengejar target. Selain terbatasnya modal, kesempatan saya pulang dengan membawa biji kopi juga tidak sesering pada awal tugas saya di daerah utara. Kabar terakhir, ning Ninik belanja biji kopi di pasar -tentu saja dengan harga normal. Dan, tetap menjalankan usaha rumahannya itu.

Oleh:
Hermawan Diasmanto

Sumber :
http://www.kulinet.com/baca/berdagang-kopi-dari-biji-ke-bubuk/149/
Artikel Terkait

0 comments:

Selamat datang di Blog Informasi Peluang Bisnis Kami. Semoga informasi yang kami berikan bermanfaat untuk Anda. Terima Kasih
 
Informasi Peluang Bisnis Copyright © 2009 Informasi Peluang Bisnis